k|o|n|f|i|g|u|r|a|s|i
Rubrik : SeCara
Highlands School Kabanjahe

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/sloki/user/h52010/sites/konfigurasi.indogetnetworks.com/www/includes/fungsi.php on line 87
2009-01-31 22:03:00 - by : Si Gun

Highland School 1942


Kabanjahe, Kabupaten Karo, ternyata lebih dulu memiliki sekolah internasional berasrama (international boarding school) seperti yang mulai marak di kota-kota besar Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Sekolah itu menyiapkan anak didiknya masuk ke perguruan tinggi elite semisal University of Cambridge di Inggris. Simaklah kisah Susan Cookson yang pernah menjadi salah satu siswinya.



Sekitar 100 siswa-siswi dan pengurus sekolah yang semuanya berkulit putih sibuk dengan kegiatan hariannya di sekolah bernama Highlands School Kabanjahe itu. Pada hari libur atau pelajaran ekstra kurikuler, siswa-siswinya kerap terlihat berolah raga, antara lain menunggang kuda. Harap maklum, inilah sekolah internasional bagi kalangan elite.



Yang bersekolah di sini adalah anakanak ekspatriat (pekerja asing) yang bekerja di Sumatera, Singapura, dan Semenanjung Malaysia. Para pengajarnya pun berkulit putih semua. Mereka berasal dari Amerika Serikat dan Eropa.



Toh sejumlah warga lokal, orang Karo tentunya, bekerja pula di sekolah itu sebagai tenaga non-kependidikan. Kebanyakan mereka bekerja sejak sekolah ini memulai pembangunannya.



Highlands School berdiri atas inisiatif William Stanley Cookson dan Bernice, isterinya. Cookson yang berkebangsaan Inggris itu sebelumnya bekerja mengelola perkebunan karet ''Selama Dindings'' Butterworth, Negara Bagian Perak, Malaysia. Setelah pensiun, ia memutuskan hidup di tempat yang lebih sehat, jauh dari hawa panas perkebunan karet Malaysia. Cookson memilih Kabanjahe sebagai tempat tinggal karena udara di sini sejuk dan bebas dari pencemaran. Namun, bagaimana pendidikan anaknya jika ia tinggal di Kabanjahe?



Maka dengan dana pensiunnya ia mulai membangun sekolah bagi anaknya, lengkap dengan tenaga pendidik mereka. Kebetulan di Kabanjahe ada dokter Paneth yang juga ingin menyekolahkan anaknya. Paneth adalah dokter yang mengelola sanatorium untuk rehabilitasi penyandang tuberklosis (TBC). Dengan kerja sama Cookson dan Paneth, berdirilah Highlands School itu.



Tak sangka, para ekspatriat asing yang menjadi kenalan Cookson dan Paneth mendengar ihwal sekolah ini. Mereka tertarik pula menyekolahkan anaknya di Highlands School. Alasannya, lebih baik menyekolahkan anak-anak mereka di sini daripada di negara asal masing-masing namun terpisah dalam jarak sangat jauh.



Karena muridnya semakin banyak, sekolah ini berkembang hingga dapat menampung 100 siswa-siswi di kelas berikut asramanya. Asrama murid laki-laki dan perempuan dibuat terpisah dan masing-masing diawasi oleh seorang kepala.



Sebuah bangunan yang dikenal dengan nama Emm House (di seberang sekolah) disewa dan didiami oleh siswa perempuan senior. Tapi, semua akomodasi dan fasilitas lainnya berada di kompleks sekolah, termasuk tempat tinggal pelayan yang dibuat terpisah. Yang mengesankan, ketertiban serta disiplin di Highlands School terkenal ketat. ''Trust and responsibility (kepercayaan dan tanggung jawab) adalah landasan pendidikan di sekolah kami,'' ungkap Susan yang juga puteri bungsu pendiri Highlands School.



Berdiri di atas lahan seluas 15 acre (enam hektare), sekolah terkenal ini berlokasi tak jauh dari kantor pos dan gereja. Hotel juga berdekatan dengan sekolah sehingga orang tua yang mengunjungi anaknya tak akan repot mencari akomodasi.



Tapi, kini tak akan pernah ada lagi anak-anak ekspatriat seperti yang diceritakan Susan Cookson belajar atau menunggang kuda di sekolah itu. Kisah Highlands School Kabanjahe sudah berakhir bersamaan dengan pecahnya Perang Dunia II yang diawali Perang Pasifik pada 7 Desember 1941.



Susan berkisah, pada Desember itu, atas permintaan orang tua siswa, liburan natal sekolah dibatalkan, sehingga para siswa tidak pulang ke negaranya masing-masing. Mereka menghabiskan masa liburan dengan kegiatan olah raga santai dan hiburan.



Namun, perang kian meluas, dan Jepang akhirnya masuk ke Sumatera pada 1942. Kompleks sekolah elite Highlands School yang berdiri sejak 1925 lantas dijadikan pangkalan militer oleh tentara Jepang yang menduduki Kabanjahe. Beruntung seluruh siswa sudah dievakuasi ke Australia sebelum Jepang mencapai Tanah Karo.



Malang, Cookson dijadikan tahanan oleh tentara Jepang, juga ibu mertua dan anak laki-lakinya (Lynn Cookson) yang berusia belasan tahun. Mereka ditahan di Sanatorium Kabanjahe.



Meski mengalami berbagai penderitaan berat, mereka mampu bertahan hidup dan akhirnya bebas setelah Jepang menyerah kalah pada 1945. Sedangkan Highlands School tidak dapat berfungsi lagi karena telah rusak total.



Sambil membawa luka hati mendalam dan penderitaan akibat perang, keluarga Cookson hijrah ke Australia. Mereka membenahi dan memulai hidup baru di Melbourne. Seorang warga Karo yang setia pada keluarga Cookson, Aris, mendapat kepercayaan dan izin untuk mengurus aset yang harus ditinggalkan oleh tuannya itu.



Jauh sebelum boarding school (sekolah berasrama) marak di kotakota besar Indonesia belakangan ini, ternyata Tanah Karo sudah lebih dulu memilikinya. Sayangnya itu terjadi di masa kolonial. Lebih sayang lagi, sekarang Highlands School itu tak tampak jejak-jejaknya.


Susan Melengkapi Impian



Pada 5 Januari 2009 lalu, aku, Susan Cookson, anak bungsu Mr Cookson membuat suatu kunjungan singkat ke Kabanjahe. Dengan bantuan beberapa teman, kami menemukan keturunan Aris. Mereka menyambut kedatangan kami dengan sangat gembira dan menceritakan kembali apa yang telah diutarakan oleh ayah mereka mengenai keluarga Cookson dan juga rumah yang mereka tempati saat ini sebagai suatu hal penting dan tak terlupakan.



Dr Muliaman D HadadArea sekolah yang luas itu telah dibagi-bagi dan dijadikan rumah penduduk sehingga sulit untuk dikenali. Tetapi berdasarkan petunjuk yang tersedia, aku merasa sudah mencapai tujuan dan harapanku, juga telah membuat hubungan kekeluargaan di Kabanjahe. Kunjunganku tersebut melengkapi impian masa kecilku untuk kembali ke tempat yang bahagia ini, dengan niat baik dan satu rasa atas pencapaian impian yang telah lama terpendam.



Foto-foto tersisa ini diambil dari album keluarga Cookson, terdiri dari foto asli (jepretan fotografer Jepang bernama Horikawa) sebelum pecah perang. Saat
itu Horikawa adalah fotografer resmi untuk setiap acara khusus di Highlands School.



Setelah penyerbuan Jepang dan Mr Cookson ditahan, pekerja yang setia bernama Aris mengumpulkan foto-foto tersebut dari studio foto Horikawa yang telah ditinggalkan. Aris menyerahkan foto-foto itu kepada ayahku yang sangat terharu dengan kebaikannya. Aris selalu mendapat penghormatan yang tinggi dari seluruh keluarga kami dan juga seluruh anggota Highlands School.

Share

k|o|n|f|i|g|u|r|a|s|i : http://konfigurasi.indogetnetworks.com
Versi Online : http://konfigurasi.indogetnetworks.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=55